Peluang Usaha Bisnis Online Indonesia Terpercaya 2016
Peluang Usaha Bisnis Online Indonesia Terpercaya 2017
Peluang Bisnis Online Indonesia
Bisnis Online

Etika Bisnis dalam Islam

Rutinitas yaitu sektor dari filsafat yg membahas dengan cara rasional juga kritis mengenai nilai, norma atau moralitas. Bersama begitu, moral berlainan bersama adat. Norma ialah satu buah pranata juga nilai tentang baik juga jelek, sedangkan rutinitas ialah refleksi kritis juga penjelasan rasional kenapa sesuatu itu baik juga tidak baik. Menipu orang lain merupakan jelek. Ini berada kepada tataran moral, sedangkan kajian kritis juga rasional kenapa menipu itu jelek apa argumen pikirannya, yaitu arena lapang rutinitas. Salah satu kajian kebiasaan yg amat sangat terkenal memasuki abad 21 di mellinium ke3 ini merupakan adat usaha.

DIKOTOMI MORAL DAN USAHA

Di era klasik bahkan serta di zaman mutakhir, masalah kebiasaan usaha dalam dunia ekonomi tak demikian mendapat ruangan. Sehingga tak aneh seandainya masihlah tidak sedikit ekonom kontemporer yg menggemakan trik pandang

Ekonomi Klasik Adam Smith

Mereka berkeyakinan bahwa suatu usaha tak memiliki tanggung jawab sosial juga usaha terlepas dari “etika”. Dalam ungkapan Theodore Levitt, tanggung jawab perusahaan hanyalah mencari keuntungan irit belaka.
Di Indonesia Paham klasik tersebut pernah berkembang dengan cara subur di Indonesia, maka mengakibatkan terpuruknya ekonomi Indonesia ke dalam jurang kehancuran. Kolusi, korupsi, monopoli, penipuan, penimbunan barang, pengrusakan lingkungan, penindasan tenaga kerja, perampokan bank oleh para konglomerat, merupakan persoalan-persoalan yg demikian telanjang didepan mata kita baik yg tampak dalam fasilitas massa ataupun sarana elektronik.
Di Indonesia, pengabaian tradisi usaha telah tidak sedikit berlangsung khususunya oleh para konglomerat.

Para pebisnis juga ekonom yg kental kapitalisnya, mempertanyakan apakah serasi mempersoalkan rutinitas dalam wacana ilmu ekonomi?. Munculnya penolakan pada adat usaha, dilatari oleh suatu paradigma klasik, bahwa ilmu ekonomi mesti bebas nilai (value cuma-cuma). Memasukkan gatra nilai etis sosial dalam diskursus ilmu ekonomi, menurut kalangan ekonom seperti diatas, bakal mengakibatkan ilmu ekonomi jadi tak ilmiah, lantaran perihal ini mengganggu obyektivitasnya. Mereka tetap bersikukuh memegang jargon “mitos usaha a moral” Di segi lain, adat usaha hanyalah mempersempit ruangan gerak keuntungan hemat. Padahal, prinsip ekonomi, menurut mereka, merupakan mencari keuntungan yg sebesar-besarnya.

Kebangkitan Etika Bisnis

Sebenarnya, Di Barat sendiri, pemikiran yg mengatakan bahwa ilmu ekonomi bersifat netral rutinitas seperti di atas, akhir-akhir ini sudah digugat oleh sebahagian ekonom Barat sendiri. Pandangan bahwa ilmu ekonomi bebas nilai, sudah tertolak. Dalam ilmu ekonomi mesti melekat nuansa normatif juga tak netral pada nilai-nilai atau adat sosial. Ilmu ekonomi mesti mengandung penentuan maksud juga metode buat mencapai maksud. Pemikiran ini tidak sedikit dilontarkan oleh Samuel Weston, 1994, yg merangkum pemikiran Boulding (1970), Mc Kenzie (1981), juga Myrdal (1984).
Kepada th 1990-an Paul Ormerof, satu orang ekonom kritis Inggris menerbitkan bukunya yg amat sangat menghebohkan “The Death of Economics", Ilmu Ekonomi telah menemui ajalnya.(Ormerof,1994). banyak pun pakar ekonomi milleniumtelah menyadari semakin tipisnya kesadaran moral dalam kehidupan ekonomi juga usaha trendi.
Amitas Etzioni

membuahkan karya monumental juga jadi best seller ; The Moral dimension : Toward a New Economics (1988). Beraneka buku adat usaha juga dimensi moral dalam ilmu ekonomi makin tidak sedikit
bermunculnan.
Menjadi, menjelang millenium ke3 juga memasuki abad 21, gagasan rutinitas sejak mulai memasuki wacana usaha. Wacana usaha bukan cuma dipengaruhi oleh situasi irit, melainkan oleh perubahan-perubahan sosial, ekonomi, politik, tehnologi, juga pergeseran-pergeseran sikap juga trik pandang para tersangka usaha atau ahli ekonomi. Keburukan-keburukan usaha mulai sejak dibongkar. Sejak Mulai dari perkembangan pasar global, resesi yg mengakibatkan pemangkasan biaya PHK, enviromentalisme, tuntutan para karyawan yg semakin melampaui sekedar kepuasan material, aktivisme para pemegang saham dalam perusahaan-perusahaan go public atau trans nasional, kaedah-kaedah baru di sektor managemen, seperti Keseluruhan Quality Management, rekayasa ulang juga bencmarking yg membuahkan pemipihan hirarki juga empowerment, semuanya sudah men¬ingkatkan kesadaran orang menyangkut keniscayaan adat dalam gerakan usaha.

Sampel mungil kesadaran itu tampak terhadap sikap para pakar ekonomi kapitalis Barat -yang sudah merasakan implikasi keburukan taktik spekulasi yg amat sangat riskan- mengusulkan utk menciptakan kebijakan dalam memerangi spekulasi. Prof. Lerner dalam buku “Economics of Control” , menyampaikan bahwa kriminal spekulasi yg agressif, paling baik apabila dicegah bersama kontra spekulasi. Mereka tampaknya belum sukses menyelesaikan krisis tersebut, walaupun mereka menanganinya bersama serius. Mungkin Saja sebab itulah Prof. Taussiq berikhtiar memecahkan masalah ini dgn memperbaiki moral rakyat. Dirinya dgn lantang berkomentar, “Obat paling mujarab, bagi kerusakan dunia usaha yakni norma moral yg baik utk seluruh industri”.

Pandangan-pandangan diatas menunjukkan, bahwa di Barat sudah muncul kesadaran baru berkenaan pentingnya dimensi kebiasaan memasuki arena lapang usaha.

Kecenderungan Baru
Perusahaan-perusahaan agung, model abad 21, kayaknya serta memiliki kecenderungan baru utk mengimplementasikan Etika Bisnis sbg visi warga yg bertanggung-jawab dengan cara sosial juga hemat. Realitas di atas, dibuktikan oleh hasil penelitian yg dilakukan oleh James Liebig, penulis Merchants of Vision. Dalam penelitian itu, dirinya mewawancarai tokoh-tokoh usaha di 14 negeri.

James Liebig menemukan enam perspektif, yg umum berlaku, sbb :
1. Bertindak pas tradisi,
2. Mempertinggi keadilan sosial,
3. Melindungi lingkungan,
4. Pemberdayaan kreatifitas manusia,
5. Tentukan visi juga maksud usaha yg bersifat sosial juga melibatkan para karyawan dalam
membangun dunia usaha yg lebih baik, menghidupkan sifat kasih sayang juga layanan
yg baik dalam proses perusahaan,
6. Meninjau ulang pandangan klasik menyangkut paradigma ilmu ekonomi yg bebas nilai.

Perspektif diatas menunjukkan bahwa adat usaha yg selagi ini menjadi angan-angan, sekarang ini memang lah jadi gampang diwujudkan sbg fakta.

Dgn begitu, tak ada argumen buat menolak adat dalam dunia usaha, bahkan kepatuhan terhadap adat usaha, sesungguhnya, bersifat kondusif kepada upaya meningkatkan keuntungan entrepreneur atau pemilik bekal. Contohnya, para pebisnis kini, yakin bahwa kesenjangan upah yg tak terlampaui akbar antara penerima penghasilan paling tinggi juga terendah juga fasilitas-fasilitas yg di terima oleh ke-2 grup karyawan ini, bakal mendorong peningkatan kinerja perusahaan dengan cara menyeluruh. Karyawan yg dahulu cendrung dianggap sbg sekrup dalam mesin akbar perusahaan, waktu ini diberdayakan. Wanita yg selam ini tidak jarang jadi korban tuntutan efisiensi, saat ini mendapati perhatian yg patut.
Perusahaan-perusahaan gede kinipun berlomba-lomba menampilkan citra diri yg sadar lingkungan, bukan saja lingkungan fisik namun pula lingkungan sosial juga budaya. Seandainya di saran g kapitalisme sendiri, (Amerika juga Eropa) sudah sejak mulai berkembang trend baru bagi dunia usaha, yakni keniscayaan tradisi, (walau kemungkinan belum sempurna), pasti kemunculannya lebih barangkali juga lebih bisa subur di negara kita yg dikenal agamis ini.

Dari paparan diatas, sanggup disimpulkan, bahwa eksistensi tradisi dalam wacana usaha yakni keharusan yg tidak terbantahkan. Dalam situasi dunia usaha membutuhkan tradisi, Islam sejak lebih 14 abad yg dulu, sudah menyerukan urgensi rutinitas bagi gerakan usaha
Islam Sumber Nilai juga Tradisi

Islam yakni sumber nilai juga adat dalam segala perihal kehidupan manusia dengan cara menyeluruh, termasuk juga wacana usaha. Islam mempunyai pengetahuan yg komprehensif mengenai tradisi usaha. Mulai Sejak dari prinsip basic, pokok-pokok kerusakan dalam perdagangan, faktor-faktor produksi, tenaga kerja, aset organisasi, distribusi ketajiran, masalah gaji, barang juga jasa, kualifikasi dalam usaha, hingga terhadap tradisi sosio ekonomik tentang hak milik juga jalinan sosial.

Kegiatan usaha adalah sektor integral dari wacana ekonomi. System ekonomi Islam pergi dari kesadaran berkaitan adat, sedangkan system ekonomi lain, seperti kapitalisme juga sosialisme, cendrung mengabaikan kebiasaan maka faktor nilai tak demikian nampak dalam bangunan ke-2 system ekonomi tersebut. Keringnya ke-2 system itu dari wacana moralitas, lantaran keduanya benar-benar tak bertolak dari adat, namun dari keperluan (interest). Kapitalisme bertolak dari keperluan individu sedangkan sosialisme bertolak dari keperluan kolektif. Tetapi, saat ini mulai sejak muncul zaman baru Etika Bisnis di pusat-pusat kapitalisme.

Satu Buah perkembangan baru yg menggembirakan.

Al-Qur’an amat tidak sedikit mendorong manusia utk melaksanakan usaha. (Qs. 62 : 10,). Al-Qur’an berikan pentunjuk biar dalam usaha tercipta jalinan yg harmonis, saling ridha, tak ada unsur eksploitasi (QS. 4 : 29) juga bebas dari kecurigaan atau penipuan, seperti keharusan menciptakan administrasi transaksi credit (QS. 2 : 282).

Rasulullah sendiri yaitu satu orang pedagang bereputasi international yg mendasarkan bangunan bisnisnya terhadap nilai-nilai ilahi (transenden). Dgn basic itu Nabi membangun system ekonomi Islam yg tercerahkan. Prinsip-prinsip usaha yg ideal nyatanya sempat dilakukan oleh Nabi juga para sahabatnya. Realitas ini jadi kenyataan bagi tidak sedikit orang, bahwa tata ekonomi yg berkeadilan, sebenarnya sempat berlangsung, walau dalam lingkup nasional, negeri Madinah. Nilai, spirit juga aliran yg dipindah Nabi itu, bermanfaat utk membangun tata ekonomi baru, yg hasilnya terwujud dalam tata ekonomi dunia yg berkeadilan.

Syed Nawab Haidar Naqvi, dalam buku “Etika juga Ilmu Ekonomi : Sebuah Sistesis Islami”,
menjelaskan empat aksioma tradisi ekonomi, ialah, tauhid, keseimbangan (keadilan), kebebasan, tanggung jawab. Tauhid, adalah wacana teologis yg mendasari segala gerakan manusia, termasuk juga gerakan usaha. Tauhid menyadarkan manusia sbg makhluk ilahiyah, sosok makhluk yg bertuhan. Bersama begitu, aktivitas usaha manusia tak terlepas dari pengawasan Tuhan, juga dalam rangka melakukan titah Tuhan. (QS. 62 : 10)

Keseimbangan juga keadilan, berarti, bahwa tingkah laku usaha mesti seimbang juga adil. Keseimbangan berarti tak berlebihan (ekstrim) dalam menguber keuntungan ekonomi (QS.7 : 31). Kepemilikan individu yg tidak terbatas, layaknya dalam system kapitalis, tak dibenarkan. Dalam Islam, Harta memiliki fungsi sosial yg kental (QS. 51 : 19) Kebebasan, berarti, bahwa manusia yang merupakan individu juga kolektivitas, punyai kebebasan penuh buat lakukan gerakan usaha. Dalam ekonomi, manusia bebas mengimplementasikan
kaedah-kaedah Islam. Sebab masalah ekonomi, termasuk juga pada hal mu’amalah, bukan ibadah, sehingga berlaku padanya kaedah umum, “Semua boleh kecuali yg dilarang”. Yg tak boleh dalam Islam merupakan ketidakadilan juga riba. Dalam tataran ini kebebasan manusia sesungguynya tak penting, tapi adalah kebebasan yg bertanggung jawab juga berkeadilan.
Pertanggungjawaban, berarti, bahwa manusia yang merupakan tersangka usaha, memiliki tanggung jawab moral pada Tuhan atas tingkah laku usaha. Harta juga sebagai komoditi usaha dalam Islam, ialah amanah Tuhan yg mesti dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.


ANJURAN NABI MUHAMMAD DALAM USAHA

Rasululah Saw, teramat tidak sedikit memberikan tata cara tentang rutinitas usaha, di antaranya adalah :

Mula-mula, bahwa prinsip esensial dalam usaha yakni kejujuran. Dalam doktrin Islam, kejujuran adalah syarat fundamental dalam aktivitas usaha. Rasulullah amat sangat intens menganjurkan kejujuran dalam gerakan usaha. Dalam tataran ini, ia bersabda : “Tidak dibenarkan satu orang muslim jual satu jualan yg memiliki aib, kecuali dia menuturkan aibnya” (H.R. Al-Quzwani). “Siapa yg menipu kami, sehingga dirinya bukan group kami” (H.R. Muslim).
Rasulullah sendiri senantiasa bersikap jujur dalam berbisnis. Dia melarang para pedagang meletakkan barang busuk disebelah bawah juga barang baru di sektor atas.

Ke-2, kesadaran menyangkut signifikansi sosial gerakan usaha. Tersangka usaha menurut Islam, tak cuma sekedar menguber keuntungan sebanyak-banyaknya, layaknya yg diajarkan Bpk ekonomi kapitalis, Adam Smith, tapi pun berorientasi pada sikap ta’awun (menopang orang lain) sbg implikasi sosial gerakan usaha. Tegasnya, berbisnis, bukan mencari untung material semata, tapi didasari kesadaran berikan kemudahan bagi orang lain dgn jual barang.

Ke3, tak jalankan sumpah palsu. Nabi Muhammad saw amat intens melarang para tersangka usaha jalankan sumpah palsu dalam melaksanakan transaksi usaha Dalam suatu hadis riwayat Bukhari, Nabi bersabda, “Dengan melaksanakan sumpah palsu, beberapa-barang memang lah terjual, tapi akhirnya tak berkah”. Dalam hadis riwayat Abu Zar, Rasulullah saw mengintimidasi bersama azab yg pedih bagi orang yg bersumpah palsu dalam usaha, juga Allah tak ingin memperdulikannya kelak di hri kiamat (H.R. Muslim). Praktek sumpah palsu dalam aktivitas usaha kala ini tidak jarang dilakukan, sebab mampu meyakinkan konsumen, juga terhadap gilirannya meningkatkan daya beli atau pemasaran. Tetapi, mesti disadari, bahwa walaupun keuntungan yg diperoleh berlimpah, namun akhirnya tak barokah.

Keempat, ramah-tamah. Seseorang palaku usaha, mesti bersikap ramah dalam lakukan usaha. Nabi Muhammad Saw menyampaikan, “Allah merahmati satu orang yg ramah juga toleran dalam berbisnis” (H.R. Bukhari juga Tarmizi).

Kelima, tak boleh berpura-pura menawar dgn harga tinggi, biar orang lain tertarik membeli dgn harga tersebut. Sabda Nabi Muhammad, “Janganlah kalian jalankan usaha najsya (satu orang costumer tertentu, berkolusi dgn bakul buat menaikkan harga, bukan bersama niat buat membeli, namun biar menarik orang lain buat membeli).

Keenam, tak boleh menjelekkan usaha orang lain, supaya orang membeli kepadanya. Nabi Muhammad Saw bersabda, “Janganlah satu orang di antara kalian jual bersama tujuan buat menjelekkan apa yg dipasarkan oleh orang lain” (H.R. Muttafaq ‘alaih).

Ketujuh, tak laksanakan ihtikar. Ihtikar yaitu(menumpuk juga menaruh barang dalam periode tertentu, dgn maksud biar harganya satu buah kala jadi naik juga keuntungan akbar serta diperoleh). Rasulullah melarang keras tabiat usaha semacam itu.

Kedelapan, takaran, ukuran juga timbangan yg benar. Dalam perdagangan, timbangan yg benar juga sesuai mesti memang lah diutamakan. Firman Allah : “Celakalah bagi orang yg curang, ialah orang yg jika menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi, juga jikalau mereka menakar atau menimbang buat orang lain, mereka mengurangi” ( QS. 83 : 112).

Kesembilan, usaha tak boleh menggangu aktivitas ibadah terhadap Allah. Firman Allah, “Orang yg tak dilalaikan oleh usaha dikarenakan mengingat Allah, juga dari mendirikan shalat juga membayar zakat. Mereka takut terhadap satu buah hri yg hri itu, hati juga penglihatan jadi goncang”.

Kesepuluh, membayar penghasilan sebelum kering keringat karyawan. Nabi Muhammad Saw bersabda, “Berikanlah pendapatan pada karyawan, sebelum kering keringatnya”. Hadist ini mengindikasikan bahwa pembayaran bayaran tak boleh ditunda-tunda. Pembayaran penghasilan mesti tepat bersama kerja yg dilakuan.

Kesebelas, tak monopoli. Salah satu keburukan system ekonomi kapitalis yaitu melegitimasi monopoli juga oligopoli. Sampel yg sederhana yaitu eksploitasi (penguasaan) individu tertentu atas hak milik sosial, seperti air, hawa juga tanah juga kandungan isinya seperti barang tambang juga mineral. Individu tersebut mengeruk keuntungan dengan cara pribadi, tidak dengan berikan peluang terhadap orang lain. Ini dilarang dalam Islam.

Keduabelas, tak boleh melaksanakan usaha dalam keadaan eksisnya bahaya (mudharat) yg bakal merugikan juga merusak kehidupan individu juga sosial. Contohnya, larangan jalankan usaha senjata di diwaktu berlangsung chaos (kekacauan) politik. Tak boleh jual barang halal, seperti anggur terhadap pembuat minuman keras, lantaran dirinya diduga keras, mengolahnya jadi miras. Seluruh wujud usaha tersebut dilarang Islam sebab bakal merusak esensi interaksi sosial yg justru mesti dijaga juga diperhatikan dengan cara cermat.

Ketigabelas, komoditi usaha yg dipasarkan yaitu barang yg suci juga halal, bukan barang yg haram, seperti babi, anjing, minuman keras, ekstasi, dan seterusnya. Nabi Muhammad Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan usaha miras, bangkai, babi juga “patung-patung” (H.R. Jabir).

Keempatbelas, usaha dilakukan dgn menyukai rela, tidak dengan paksaan. Firman Allah, “Hai beberapa orang yg beriman, jangan anda saling memakan harta sesamamu dgn kiat yg batil, kecuali dgn jalan usaha yg berlaku dgn suka-sama menyukai di antara kamu” (QS. 4 : 29).

Kelimabelas, Serta-merta melunasi credit yg jadi kewajibannya. Rasulullah memuji satu orang muslim yg mempunyai perhatian serius dalam pelunasan hutangnya. Sabda Nabi Saw, “Sebaik-baik anda, yaitu orang yg paling serentak membayar hutangnya” (H.R. Hakim).

Keenambelas, Berikan tenggang kala jikalau pengutang (kreditor) belum sanggup membayar. Sabda Nabi Saw, “Barang siapa yg menangguhkan orang yg kesusahan membayar hutang atau membebaskannya, Allah bakal memberinya naungan dibawah NaunganNya kepada hri yg tidak ada naungan kecuali Naungan-Nya” (H.R. Muslim).

Ketujuhbelas, bahwa usaha yg dilaksanakan bersih dari unsur riba. Firman Allah, “Hai beberapa orang yg beriman, tinggalkanlah sisa-sisa riba seandainya anda beriman (QS. Al-Baqarah : : 278) Tersangka juga pemakan riba dinilai Allah juga sebagai orang yg kesetanan (QS. 2 : 275). Oleh sebab itu Allah juga Rasulnya mengumumkan perang kepada riba.

Demikianlah sebahagian Etika Bisnis dalam perspektif Islam yg pernah diramu dari sumber falsafah Islam, baik yg bersumber dari Al-Qur’an ataupun Sunnah

Artikel Terkait : Etika Bisnis dalam Islam


Peluang Bisnis Online Terpercaya Indonesia
Peluang Bisnis Online Terpercaya Indonesia
Peluang Bisnis Online Terpercaya Indonesia