Peluang Usaha Investasi Online Terpercaya
bisnisindonesian.com

Mengenal Investasi Saham dan cara bermain saham


Saham dapat diartikan sebagai surat berharga sebagai tanda bukti penyertaan modal atau kepemilikan oleh perorangan atau badan usaha pada suatu perusahaan, satu lembar saham sama dengan satu bagian kepemilikan

 

Secara umum, saham dapat dikelompokan jadi dua jenis saham biasa dan saham preferen

Saham biasa merupakan jenis investasi saham yang paling umum yang tiap harinya diperjual belikan di bursa, sedang saham prefen adalah saham yang likuiditasnya lebih tinggi dari saham biasa. Apa bedanya?

Saham preferen sendiri sebetulnya adalah kombinasi antara obligasi dan saham biasa. Pemilik saham preferen memiliki hak untuk lebih diutamakan daripada pemilik saham biasa, misalnya dalam pembagian deviden atau pembagian aset bila perusahaan bangkrut.
Dalam keadaan tertentu, misalnya emiten sedang merugi, ada kemungkinan bahwa pemilik saham, baik saham biasa maupun preferen, tidak menerima deviden.
Bedanya, pemilik saham preferen tidak kehilangan devidennya itu, emiten wajib membayar deviden yang tertunda pada periode pembagian berikutnya. Hal ini tidak berlaku untuk pemegang saham biasa. Selain itu, bila perusahaan bangkrut, maka pemilik saham preferen akan mendapat prioritas dalam pembagian sisa aset perusahaan dibanding pemegang saham biasa.

investasi saham

Penghasilan dari investasi Saham

1. Deviden
Bagian laba perusahaan yang dibagikan pada pemegang
saham. Deviden ini biasanya dibagikan tiap kurun waktu tertentu, misalnya 3 bulan sekali, atau tiap tahun sekali.
Proporsinya sebanding dengan jumlah saham yang dimiliki,
semakin banyak saham yang Anda punya, semakin besar bagian deviden yang Anda terima.
Tapi ada kalanya pula deviden tidak dibagikan oleh
perusahaan, misalnya saat perusahaan merugi atau berdasar
kebijakan Rapat Umum Pemegang Saham.

2. Capital Gain
Yaitu keuntungan yang didapat dari selisih harga dalam jual beli saham. Misalnya, Anda membeli 1000 saham perusahaan ABC yang harganya Rp 1000/ lembar (total Rp 1.000.000).
Beberapa waktu kemudian, harga saham itu naik menjadi Rp 1.250/ lembar, bila saat itu Anda menjual saham yang Anda miliki, Anda akan mendapat capital gain sebesar Rp 250 / lembar saham atau total Rp 250.000.

Jalur Investasi Saham

Anda dapat berinvestasi di pasar modal melalui dua jalur, yaitu:

1. Melalui Pasar Perdana (Pasar Primer)
Pasar ini ada saat perusahaan / emiten menjual sahamnya
pada public untuk pertama kali atau istilahnya go public
Penjualan ini biasanya diumumkan lewat media massa dalam bentuk Prospektus. Nah, bila Anda tertarik, Anda dapat menghubungi
perusahaan tersebut dan membelinya. Biasanya emiten
mencantumkan alamat dan syarat pembelian dalam
prospektusnya. Yang perlu diingat, penjualan saham perdana hanya berlaku dalam jangka waktu tertentu. Bila lewat dari jangka waktu yang ditentukan, maka Anda harus membelinya lewat pasar sekunder.

2. Melalui Pasar Sekunder
Bila dalam pasar primer transaksi adalah antara investor
dengan perusahaan, maka dalam pasar sekunder transaksi terjadi antara investor satu dengan investor lain tanpa keterlibatan emiten. Harga saham yang diperdagangkan pun tergantung oleh pasar, bukan ditentukan oelh emiten seperti halnya dalam pasar perdana.
Proses transaksi jual beli saham dari investor ke investor ini
tidak dapat dilakukan secara langsung seperti halnya pada pasar perdana, melainkan harus dilakukan di Bursa Efek melalui pialang atau perusahaan perantara.
Untuk menggunakan jasa pialang, Anda harus mendepositokan sejumlah uang dalam bank yang ditunjuk oleh perusahaan pialang itu. Daftar nama pialang bisa Anda lihat di BEI (Bursa Efek Indonesia) atau melalui situs jsx.co.id

Istilah – istilah yang Perlu dipahami

Emiten : perusahaan penerbit saham
Hari bursa : hari dimana saham diperjual belikan
Harga nominal : yaitu harga saham yang ditetapkan emiten
penerbitnya. Untuk pemilik saham preferen, harga nominal ini sangat penting artinya, karena dari harga inilah nilai deviden tetap ditentukan. Misalkan disebutkan bahwa deviden saham preferen adalah 10 %, maka artiya deviden yang diterima adalah 10 persen
dari harga nominal. Bila harga nominal selembar saham prefern Rp 500, maka deviden yang Anda terima adalah Rp 50/ lembarnya.
Harga perdana : harga saham saat pertama kali dijual di pasar perdana.
Harga pasar : nilai jual saham dalam pasar sekunder. Nilainya tergantung pada mekanisme pasar.
Capital gain : laba yang didapat atas selisih harga saham
Capital loss  : kebalikan dari capital gain, capital loss adalah kerugian akibat turunnya harga saham yang dibeli.
Deviden tunai : deviden dalam bentuk uang tunai
Stock dividend : deviden dalam bentuk kepemilikan saham
Deviden tetap : merupakan jenis deviden yang dibagikan pada pemilik saham preferen. Nilainya tetap seperti pembayaran kupon obligasi.
Deviden kumulatif : deviden yang menjadi hak pemegang saham preferen, tapi belum diterima pada periode pembagian saham yang lalu.
Deviden non-kumulatif : bila memiliki saham preferen yang devidennya non-kumulatif, artinya pemilik saham prefern itu tidak berhak menuntut deviden yang tidak dibayarkan pada masa lampau.
Yield : total keuntungan yang diterima investor, baik dari capital gain maupun deviden.
Callability : hak emiten untuk membeli kembali saham preferen yang sudah diedarkan. Biasanya emiten akan membeli saham tersebut diatas harga nominal.
Convertible preferred stock : saham preferen yang dapat
ditukarkan dengan kepemilikan saham biasa. Rasio penukaran tergantung kesepakatan antara investor dan emiten.
Non-convertible preferred stock : kebalikan dari convertible preferred stock. Saham ini tidak dapat ditukarkan dengan saham biasa.

Investor dan Spekulan
Anda tentu pernah mendengan dua istilah ini, apa bedanya?
Seorang investor lebih berorientasi pada return jangka panjang. Bila ia mau menanamkan uangnya dalam investasi saham, ia akan meneliti saham yang hendak dibeli itu secara teliti, mulai dari reputasi sampai kinerja dan laporan keuangan emiten penerbitnya. Lain halnya dengan spekulan.
Spekulan mengejar keuntungan cepat, ia akan berinvestasi saham bila ia memperkirakan bahwa harga saham itu akan naik, tidak peduli seperti apa kinerja perusahaan penerbitnya.
Berspekulasi memang berpotensi memberikan untung besar
secara cepat, tapi resikonya pun sangat besar, Anda bisa kaya mendadak tapi juga bisa jatuh miskin spektakuler. Dan sampai saat ini hanya sedikit orang kaya yang mendapatkan kekayaannya dari berspekulasi saham. Di sisi lain, malah banyak orang kehilangan uang dan terhambat dalam menghimpun kekayaannya akibat berspekulasi saham. Bukannya spekulasi itu buruk, tapi lebih tepatnya seperti
taruhan. Saat Anda menjual, akan ada yang membeli. Nah, sebenarnya saat itu Anda sedang bertaruh. Anda menganggap saham yang Anda jual akan turun, sedangkan yang membeli memperkirakan bahwa nilainya akan naik. Persentase ‘kemenangan’ Anda kecil bila Anda tidak terjun penuh waktu untuk memantau pergerakan saham.
Karena itu saran saya, berinvestasilah, bukan berspekulasi.

Tips Investasi Saham

Nilai saham - Murah atau mahal ?
Yang saya maksud murah atau mahal bukan harga perlembar saham, melainkan harga saham itu dibanding nilai intrinsiknya. Bila nilai intrinsik suatu saham lebih tinggi dari harga jualnya, maka saham itu terbilang murah.
Contohnya, saham PT Alam Rp 4.000 perlembarnya, tapi ternyata bila Anda hitung-hitung, sebetulnya saham itu bernilai Rp 6.000 perlembar. Maka saham PT Alam ini terbilang murah.
Beli Saham di perusahaan yang berbobot.
Sebelum berinvestasi saham apapun, teliti perusahaannya! Luangkan waktu untuk meneliti manajemen, operasional, finansial, pesaing, serta potensi perusahaan itu untuk berkembang. Belilah saham perusahaan tersebut hanya jika Anda sudah yakin akan kinerjanya.
Telur di beberapa keranjang memang lebih aman
tapi kalau terlalu banyak keranjang malah repot, Jangan terlalu banyak membeli saham perusahan yang berbeda, Anda akan kerepotan memantaunya. Selain itu, keuntungan Anda malah jadi tidak maksimal bila salah nilai salah satu saham Anda meningkat pesat.
Masa depan tidak bisa ditebak
Jangan terlalu percaya pada siapapun yang meramalkan bahwa ‘harga saham ini akan naik’ atau sebaliknya.
Ada kalanya Anda merugi. Karena itu, belajarlah untuk meminimalisir kerugian secepat mungkin.
Evaluasi secara berkala.
Perubahan keadaan menyebabkan nilai dan resiko tiap saham berubah, kalau saham yang Anda miliki ternyata sudah tidak potensial lagi memberikan keuntungan, jual saja.
Selalu sediakan dana cadangan.
Setidaknya Anda harus memiliki tabungan darurat yang berjumlah minimal 5-6 kali pengeluaran Anda sebulan. Kalau ada saham yang menguntungkan, Anda dapat mengunakan dana itu untuk membelinya. Sebaliknya, saat Anda kehilangan sebagian besar investasi, Anda masih punya dana penopang yang akan memberi Anda waktu untuk bangkit kembali.

Sekian ulasan mengenai investasi saham.

Tag :saham, investasi, investasi saham